02 July 2013

Kisah Malaikat, Orang Lepra, Botak, dan Buta

Erick Yusuf

(Sumber :REPUBLIKA.CO.ID, Bismillahirrahmaanirrahiim,)
Kali ini mari saya angkat kisah yang cukup menginspirasi dari hadits Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah ra bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita lepra, orang berkepala botak, dan orang buta.  

Allah mengirim malaikat untuk menguji tiga orang yang cacat tersebut.  Pertama Malaikat  datang  pada penderita lepra. 

”Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Tanya Malaikat.

Si lepra menjawab, “Rupa yang elok, kulit yang indah, dan apa yang telah menjijikkan orang-orang ini hilang dari tubuhku.” 

Malaikat mengusap penderita lepra  dan hilanglah penyakit yang dideritanya. 

Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Ia menjawab, 'Unta atau sapi.” Maka diberilah ia seekor unta yang bunting.

Malaikat kemudian mendatangi orang berkepala botak dan bertanya kepadanya, “Apakah yang paling kamu inginkan?” 

Si botak menjawab, “Rambut yang indah dan hilang dari kepalaku apa yang telah menjijikkan orang-orang.“ Maka diusaplah kepalanya, dan ketika itu hilanglah penyakitnya serta diberilah ia rambut yang indah.

Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, “Kekayaan apa yang paling kamu senangi?” 

“Sapi atau unta,“ jawab si botak. Maka diberilah ia seekor sapi bunting.

Malaikat kemudian mendatangi si buta dan bertanya kepadanya, “Apakah yang paling kamu inginkan?” 

Si buta menjawab, “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang-orang.” Maka diusaplah wajahnya, dan ketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. 

Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, “Lalu, kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Jawabnya, “Kambing.” Maka diberilah seekor kambing bunting.

Waktu telah berlalu. Ketiga orang itu telah maju. Ternak mereka telah berkembang biak.  Hingga datanglah Malaikat itu menyerupai penderita lepra.

“Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku, sehingga aku tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang elok, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku meminta kepada anda seekor unta saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.”  

Namun jawaban si lepra begitu mengejutkan, “Hak-hakku (tanggunganku) banyak.” 

Malaikat yang menyerupai orang penderita lepra itu pun berkata kepadanya, “Sepertinya aku mengenal Anda. Bukankah Anda ini yang dulu menderita lepra, orang-orang jijik kepada Anda, lagi pula anda orang melarat, lalu Allah memberi Anda kekayaan?” 

Dia malah menjawab, “Sungguh, harta kekayaan ini hanyalah aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.” Maka Malaikat itu berkata kepadanya, 'Jika Anda berkata dusta, niscaya Allah mengembalikan Anda kepada keadaan Anda semula.”

Malaikat kemudian mendatangi orang yang sebelumnya botak dan berkata sebagaimana ia katakan pada orang yang pernah menderita lepra. Namun ia ditolaknya sebagaimana telah ditolak oleh orang pertama itu. Maka si malaikat berdoa dengan doa yang sama sebagaimana orang pertama.

Terakhir, si Malaikat mendatangi orang yang sebelumnya pernah buta. “Aku seorang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak akan dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan Anda, aku meminta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.” 

Orang itu menjawab, “Sungguh, aku dahulu buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka, ambillah apa yang Anda sukai dan tinggalkan apa yang Anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit Anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah Anda ambil karena Allah.” 

Malaikat yang menyerupai orang buta itupun berkata, “Peganglah kekayaan Anda, karena sesungguhnya kalian ini hanyalah diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada Anda, dan murka kepada kedua teman Anda."

Kisah orang-orang kufur ini diambil dari Hadistyang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab “Ahaditsil Anbiya”, bab hadis tentang orang berpenyakit lepra, orang buta dan orang botak di Bani Israil (6/500 no. 3464). Bukhari menyebutkannya secara ringkas sebagai penguat dalam Kitab “Iman wan Nudzur”, (11/540), no. 6653.

Dari kisah di atas tersebut, pernahkah kita mengalami hal mirip dengan kejadian di atas?. Pernahkah kita merenung sejenak apakah mereka yang meminta pertolongan kita itu benar-benar manusia ataukah malaikat yang sedang menguji kita, ataukah orang-orang yang menolong kita itu benar-benar manusia ataukah malaikat-malaikat yang dikirim oleh Allah untuk menolong kita. 

Coba kita ingat-ingat sejenak mereka yang menolong kita, apa benar mereka itu tetangga kita, saudara kita, teman sejawat yang kita kenal, para pejabat yang ditugaskan, pedagang yang sedang lewat, nenek yang berwajah ramah ataukah mereka jelmaan dari para malaikat-malaikat Allah?

Begitu pula orang-orang yang pernah kita tolong, benarkah mereka itu manusia?. Wallahu ‘alam, kita tidak pernah mengetahuinya secara pasti. Tapi jika kita simak Surat Al Anfaal, 8 : 9. "(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-NYA bagimu : “sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” 

Allah SWT akan menolong kita dengan mengirimkan pertolongan 1.000 malaikat yang akan datang kepada kita. dan kita pun mengetahui bahwa malaikat dapat berubah bentuk menjadi entah siapa, juga dalam bentuk entah apa. Namun hati-hati sahabat, ingatkah juga kita kepada orang-orang yang kita pernah menolak memberikan pertolongan kepadanya? 

Benarkah mereka hanya pengemis biasa, anak-anak yatim dhuafa, tetangga yang sedang berkesusahan, atau boleh jadi mereka adalah jelmaan malaikat yang sedang Allah utus untuk menguji kita semua.
Wallahu A’lam bish shawwaab.

Tidaklah lebih baik dari yang menulis ataupun yang membaca, karena yang lebih baik di sisi Allah SWT adalah yang mengamalkannya.

Ustaz Erick Yusuf: Penggagas iHaqi
@erickyusuf

Calhaj Lanjut Usia dan Berkursi Roda Boleh Berhaji

Sumber : www.jurnalhaji.com, JAKARTA,  —
 Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh, Dr Anggito Abimanyu mengatakan tidak akan ada lagi pembatasan kriteria untuk jamaah calon haji pada 2013 ini. Maka calon haji yang akan berangkat adalah berdasarkan daftar urut, kecuali jamaah yang sudah berhaji.

 “Kami putuskan tidak ada restriksi berdasarkan usia atau terhadap pengguna kursi roda. Pemerintah Saudi sudah pastikan daerah tawaf temporer di Masjidil Haram akan selesai pada Ramadhan. Kami yakin jalur tawaf temporer tersebut menggunakan sistem knock down dan memungkinkan bagi calhaj sepuh atau yang berkusi roda,” kata Anggito. 

Namun, ia mengingatkan bahwa pengurangan kuota akan tetap berlaku. Pasalnya, daya tampung tawaf yang semula 48 ribu orang per jam kini dengan penambahan fasilitas temporer akan menjadi 35 ribu orang per jam. Anggito mengatakan, perluasan ini memang terbilang proyek besar dan bisa disebut proyek ekstravaganza. Proyek perluasan ini akan menambah daya tampung jamaah menjadi 105 ribu orang per jam. 

Proyek ini melipiuti pengurangan tiang-tiang masjid dan perluasaan jalur tawaf.  Tak hanya itu, juga ditambah dengan  pembangunan Masjid Abdullah. Proyek ini akan berlangsung selama tiga tahun dan diharapkan pada 2017, Indonesia akan mendapatkan kompensasi berupa tambahan quota dari jumlah normal.

Inilah Sedekah yang Paling Besar Pahalanya

Sedekah (ilustrasi).
Sumber : REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Moch Hisyam
Suatu ketika ada seseorang yang datang kepada Nabi SAW seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Lalu, beliau menjawab, “Bersedekah selama kamu masih sehat, bakhil (suka harta), takut miskin, dan masih berkeinginan untuk kaya. Dan, janganlah kamu menunda-nunda sehingga apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan maka kamu baru berkata, 'Untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian', padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli warisnya).” (HR Bukhari dan Muslim).

Salah satu pelajaran yang terkandung dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah di atas adalah anjuran kepada kita untuk bersegera bersedekah dan melakukan amal-amal baik lainnya. Tegasnya, berbuat baik itu jangan ditunda-tunda, harus segera dilaksanakan. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT dalam al-Baqarah (2) ayat 148, “Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.”

Dalam hadisnya, Rasulullah SAW bersabda, “Perlahan-lahan dalam segala sesuatu itu baik, kecuali dalam perbuatan yang berkenaan dengan akhirat.” (HR Abu Dawud, Baihaqi, dan Hakim). Bila kita menunda-nunda amal kebaikan bisa menjadikan amal baik yang akan kita lakukan itu tidak terlaksana. Itu karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput diri kita. 

Boleh jadi karena menunda-nunda amal, ajal keburu menjemput diri kita sehingga kita tidak sempat melakukan amal baik yang telah kita niatkan. Selain itu, bila kita menunda-nunda amal baik bisa menyebabkan niat kita menjadi berubah karena ketika kita menunda-nunda berbuat baik sama dengan membuka kesempatan pada hawa nafsu dan setan untuk mengganggu dan menggoda diri kita.

Karena, hawa nafsu dan setan senantiasa mengajak kepada keburukan dan menghalangi  kita berbuat kebaikan. Allah berfirman, “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya, Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yusuf [12] : 53).

Dalam ayat lain disebutkan, “Dan, sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS Az-Zukhruf [43] : 37). Untuk itu, bila kita mempunyai niat berbuat kebaikan hendaknya bersegera melakukannya agar kita segera memperoleh kebaikan dan sebagai upaya kita menyempurnakan kebaikan yang kita lakukan.

Di dalam atsar Abdullah Ibnu Abbas, dikatakan, “Tidak sempurna kebaikan kecuali dengan menyegerakannya karena jika disegerakan hal itu akan lebih menyenangkan pihak yang berkepentingan.” Akhirnya, mari kita renungi sebuah kisah sebagai ibrah dan mauizdah bagi kita untuk menyegerakan setiap kebaikan yang telah kita niatkan.

Dikisahkan, “Seorang saleh yang sedang berada di kamar mandi pernah memanggil budaknya dan menyuruhnya untuk memberikan sedekah kepada seseorang. Maka, budak itu berkata kepadanya, 'Mengapa tuan tidak bersabar dulu, hingga tuan keluar dari kamar mandi?' Dia menjawab, 'Saya mempunyai niat untuk berbuat baik dan saya takut niat itu berubah. Oleh karena itu, begitu mempunyai niat, saya segera mengikutinya dan melaksanakannya.'” Wallahu'alam.
 

Tarik Wisatawan Muslim, Makanan Halal Booming di Jepang



(Sumber : TOKYO, muslimdaily.net) Memenuhi permintaan yang tinggi terhadap penduduk dan turis Muslim, restoran di ibukota Jepang, Tokyo, memperluas layanan yang berkembang atas makanan halal. 

"Makanan halal saat ini dilayani hanya dalam 23 area di Tokyo, tapi kami ingin memperluas area pengiriman," kata seorang anggota staf restoran Halal Deli kepadaThe Japan Times Jumat 21, sebagaimana dilansironislam.net.  

Halal Deli adalah salah satu restoran baru di Tokyo yang dibuka baru-baru ini untuk memenuhi meningkatnya permintaan untuk makanan halal dari turis Muslim dari negara-negara seperti Indonesia dan lainnya.

Restoran halal ini menyajikan aneka makanan khas Malaysia, Indonesia dan Turki. Mereka juga memiliki jasa menyediaan makanan bagi perusahaan. Pelanggan mereka yang paling sering adalah perusahaan yang memiliki karyawan Muslim dan pengunjung biasa serta wisatawan. 

Pemerintah Jepang baru-baru ini menjadikan turis dari Asia Tenggara sebagai prioritas dan sedang mempersiapkan untuk memberikan persyaratan visa yang mudah untuk memikat lebih banyak turis dari wilayah ini. 

"Dalam rencana utama kami, diperkirakan sekitar 200 permintaan setiap bulan, tapi sekarang kami menerima lebih dari 500 per bulan," kata anggota staf di Halal Deli. 

"Kami berencana untuk mendapatkan lebih banyak kontrak dan kami berharap layanan akhirnya akan diperluas ke kota-kota lain." 

Sebelum adanya restoran makanan halal, Fauziah Fauzan, seorang Muslim Indonesia yang tengah mengadakan kunjungan ke Jepang,  khawatir tentang makanan yang disajikan di restoran saat dia membutuhkan makanan. Untuk menghindari makanan haram, dia biasanya membeli ikan atau sayuran. 

"Saya tidak perlu khawatir jika apa yang saya makan itu diperbolehkan atau tidak," kata Fauzan, 42 tahun, anggota dari sekitar 30 pejabat pendidikan dari Indonesia yang datang ke Jepang untuk mengunjungi sekolah-sekolah yang ada di Jepang.  

"Ada banyak Muslim yang ingin mengunjungi Jepang, tetapi kekhawatiran tentang makanan adalah alasan utama mengapa mereka berfikir dua kali ke sini," kata Mina Hattori, pemimpin tim Fauzan dan seorang profesor di Sekolah Pendidikan dan Pembangunan Manusia dari Nagoya. University. 

"Saya berpikir bahwa jika halal menjadi lebih tersedia, jumlah Muslim yang mengunjungi Jepang akan meningkat."

Upaya pemerintah Jepang untuk memudahkan akses terhadap makanan halal merupakan jaminan bafi pertumbuhan wisatawan Muslim. [ahr]